Selasa, 20 November 2012

ERITROSIT (Campuran dari beberapa sumber)


Dalam setiap 1 mm3 darah terdapat sekitar 5 juta eritrosit atau sekitar 99%, oleh karena itu setiap pada sediaan darah yang paling banyak menonjol adalah sel-sel tersebut. Dalam keadaan normal, eritrosit manusia berbentuk bikonkaf dengan diameter sekitar 7 -8 μm, tebal ± 2.6 μm dan tebal tengah ± 0.8 μm dan tanpa memiliki inti.

Komposisi molekuler eritrosit menunjukan bahwa lebih dari separuhnya terdiri dari air (60%) dan sisanya berbentuk substansi padat. Secara keseluruhan isi eritrosit merupakan substansi koloidal yang homogen, sehingga sel ini bersifat elastis dan lunak. Eritrosit mengandung protein yang sangat penting bagi fungsinya yaitu globin yang dikonjugasikan dengan pigmen hem membentuk hemoglobin untuk mengikat oksigen yang akan diedarkan keseluruh bagian tubuh. Seperti halnya sel-sel yang lain, eritrositpun dibatasi oleh membran plasma yang bersifat semipermeable dan berfungsi untuk mencegah agar koloid yang dikandungnya tetap didalam.

Dari pengamatan eritrosit banyak hal yang harus diperhatikan untuk mengungkapkan berbagai kondisi kesehatan tubuh. Misalnya tentang bentuk, ukuran, warna dan tingkat kedewasaan eritrosit dapat berbeda dari normal. Jika dalam sediaan apus darah terdapat berbagai bentuk yang abnormal dinamakan poikilosit, sedangkan sel-selnya cukup banyak maka keadaan tersebut dinamakan poikilositosis. Eritrosit yang berukuran kurang dari normalnya dinamakan mikrosit dan yang berukuran lebih dari normalnya dinamakan makrosit.

Warna eritrosit tidak merata seluruh bagian, melainkan bagian tengah yang lebih pucat, karena bagian tengah lebih tipis daripada bagian pinggirnya. Pada keadaan normal bagian tengah tidak melebihi 1/3 dari diameternya sehingga selnya dinamakan eritrosit normokhromatik. Apabila bagian tengah yang pucat melebar disertai bagian pinggir yang kurang terwarna maka eritrosit tersebut dinamakan eritrosit hipokromatik. Sebaliknya apabila bagian tengah yang memucat menyempit selnya dimanakan eritrosit hiperkhromatik.                             

Sel Darah Merah (Eritrosit)

Ciri-ciri eritrosit manusia adalah berbentuk cakram bikonkaf, berdiameter 7-8 µm tebalnya 1-2µm, bersifat elastic, serta tidak memiliki inti (pada eritrosit tua). Di dalam tubuh manusia ada sekitar 30 triliun eritrosit. Jumlah eritrosit pada laki-laki berkisar 4,2 juta-5,4 juta µl, sedangkan pada perempuan berkisar 3,6 juta-5,0 juta µl.

Fungsi eritrsit adalah mengangkut oksien dari paru-paru untuk diedarkan ke seluruh tubuh. Eritrosit mampu mengangkut oksigen ke seluruh tubuh karena memiliki hemoglobin (Hb). Hemoglobin merupakan suatu protein khusus yang mengandung zat besi yang mampu mengikat oksigen. Dalam setiap eritrosit terdapat sekitar 250 juta molekul Hb. Tiap molekul Hb dapat membawa empat molekul oksigen. Pengikatan oksigen oleh Hb terjadi di dalam paru-paru

Oksigen yang telah berikatan dengan Hb itu, kemudian diedarkan ke seluruh tubuh. Di dalam sel-sel tubuh, oksigen dipakai untuk reaksi respirasi guna menghasilkan energy. Eritrosit juga berfungsi membawaa karbon dioksida, yaitu bahan buang yang dihasilkan sel, walaupun karbon dioksida dibawa oleh plasma.
Eritrosit didalam sum-sum merah pada tulang-tulang tertentu ( tulang belakang, tlang rusuk, tulang tengkorak dan tulang pipa). Umur eritrosit manusia kira-kira 120 hari. Dalam setiap detik, kira-kira 2,4 juta eritrosit dirombak untuk digantikan dengan yan baru. Perombakan eritrosit terjadi di dalam hati.

Ciri dan fungsi Eritrosit
Eritrosit mamalia tidak berinti sehingga tidak memiliki DNA. Eritrosit mamalia berbentuk bikonkaf, yaitu bentuk cakram dengan bagian tengah agak gepeng. Bentuk ini berfungsi untuk mengoptimalkan pertukaran oksigen. Warna eritrosit tergantung pada hemoglobin. Fungsi hemoglobin adalah membantu eritrosit mengikat oksigen (O2 ). Jika hemoglobin mengikat O2 maka eritrosit akan berwarna merah. Jika O2 telah dilepaskan, maka warnanya menjadi merah kebiruan. Hemoglobin tersusun atas protein globin yang terikat pada pigmen heme merah.

Kadar hemoglobin dalam (Hb) darah bervariasi, tergantung pada jenis kelamin dan umur seseorang. Pada kondisi normal, kadar Hb laki-laki dewasa adalah 13-18 gram per 100 ml (g/ml) darah; kadar Hb wanita dewasa adalah 12-16 g/ml darah; sedangkan Hb bayi 14-20 g/ml darah. Oleh karenanya, sulit untuk menentukan nilai standarnya.
Eritrosit juga mengkatalis reaksi antara karbon dioksida dan air karena eritrosit mengandung karbonat anhidrase dalam jumlah besar. Reaksi ini memungkinkan darah bereaksi dengan sejumlah besar karbon dioksida dan mengangkutnya dari jaringan ke paru-paru.

Jumlah eritrosit bervariasi, tergantung jenis kelamin, usia, dan ketinggian tempat tinggal seseorang. Orang yang tinggal di dataran tinggi cenderung memiliki jumlah eritrosit lebih banyak, dibandingkan orang yang tinggal di dataran rendah. Jumlah eritrosit dapat berkurang, misalnya karena luka yang mengeluarkan banyak darah atau karena anemia.

Tubuh kita memerlukan oksigen untuk proses oksidasi makanan guna menghasilkan energy. Oksigen akan diedarkan sampai ke jaringan tubuh melalui pengangkutan oleh darah dalam bentuk ikatan yang mudah lepasa berupa oksihemoglobin. Dalam waktu satu menit, 5 liter darah yang dipompa jantung dapat melepaskan lebih kurang 250 ml oksigen yang terikat pada hemoglobin dan eritrosit. Sebagian kecil oksigen juga diangkut oleh plasma darah. Dari jaringan tubuh, hemoglobin akan mengikat sebagian karbon dioksida dalam bentuk karbominohemoglobin.
Banyak oksigen yang dilepaskan dari Hb seperti nilai di atas, terjadi saat seseorang dalam keadaan istirahat. Aktivitas seseorang akan berpengaruh pada peredaran darah sehingga oksigen yang dilepaskan akan berbeda-beda pula untuk setiap orang.

Pembentukan eritrosit
Proses pembentukan eritrosit disebut eritropoiesis. Pada beberapa minggu pertama embrio dalam kandungan, eritrosit dihasilkan dalam kantong kuning telur. Beberapa bulan kemudian, pemebntukan eritrosit terjadi di hati, limfa, dan kelenjar limfa. Sesudah bayi lahir, eritrosit dibentuk oleh sumsum tulang. Produk eritrosit distimulasi oleh hormon eritropoietin. Kira-kira di usia 20 tahun, sumsum bagian proksimal tulang panjang sudah tidak menghasilkan eritrosit lagi. Sebagian besar eritrosit akan dihasilkan dalam sumsum tulang membranosa (tulang belakang, tulang dada, tulang rusuk, dan tulang panggul). Dengan meningkatnya usia, sumsum tulang menjadi kurang produktif.

Sel yang dapat membentuk eritrosit adalah hemositoblas atau sel batang myeloid yang mampu berkembang menjadi bebragai jenis sel darah (bersifat pluripoten). Sel ini terdapat di sumsum tulang dan akan membentuk berbagai jenis leokosit, eritrosit, dan megakarosit (Pembentuk keping darah). Eritrosit yang terbentuk akan keluar dan menembus membran (kemampuan ini disebut dispedesis) dan memasuki kapiler darah. Selain membentuk eritrosit, hemositoblas juga membentuk sel plasma, limfosit b, limfosit t, monosit, dan fagosit-fagosit lain.

Dalam keadaan normal, erotrosit bertahan selama rata-rata 120 hari. Saat sel menua, membrane sel rapuh dan pecah. Eritrosit tua dimusnahkan di organ limfa (lien) dan hati. Hemoglobin dicerna oleh sel-sel retikuloendotelium. Zat besi dilepas kembali ke dalam darah untuk kemudian diangkut kembali ke sumsum tulang dan hati. Hemoglobin diubah menjadi pigmen empedu (bilirubin) dan diekresi oleh hati ke dalam empedu.




Pengertian & Fungsi Eritrosit ( Sel Darah Merah )

Eritrosit merupakan bagian utama dari sel-sel darah. Setiap mm kubiknya darah pada seorang laki-laki dewasa mengandung kira-kira 5 juta sel darah merah dan pada seorang perempuan dewasa kira-kira 4 juta sel darah merah.

Tiap-tiap sel darah merah mengandung 200 juta molekul hemoglobin. Hemoglobin (Hb) merupakan suatu protein yang mengandung senyawa besi hemin. Hemoglobin mempunyai fungsi mengikat oksigen di paru-paru dan mengedarkan ke seluruh jaringan tubuh. Jadi, dapat dikatakan bahwa di paruparu terjadi reaksi antara hemoglobin dengan oksigen.

2 Hb2+ 4 O2 ==> 4 Hb O2 (oksihemoglobin)

Setelah sampai di sel-sel tubuh, terjadi reaksi pelepasan oksigen oleh Hb.

4 Hb O2 ==> 2 Hb2+ 4 O2

Kandungan hemoglobin inilah yang membuat darah berwarna merah. Amatilah Gambar 5.2 untuk mengenal struktur hemoglobin.



Struktur Eritrosit

Eritrosit mempunyai bentuk bikonkaf, seperti cakram dengan garis tengah 7,5 uM dan tidak berinti. Warna eritrosit kekuning-kuningan dan dapat berwarna merah karena dalam sitoplasmanya terdapat pigmen warna merah berupa hemoglobin.

Pembentukan Eritrosit

Eritrosit dibentuk dalam sumsum merah tulang pipih, misalnya di tulang dada, tulang selangka, dan di dalam ruas-ruas tulang belakang. Pembentukannya terjadi selama tujuh hari. Pada awalnya eritrosit mempunyai inti, kemudian inti lenyap dan hemoglobin terbentuk. Setelah hemoglobin terbentuk, eritrosit dilepas dari tempat pembentukannya dan masuk ke dalam sirkulasi darah.

Eritrosit dalam tubuh dapat berkurang karena luka sehingga mengeluarkan banyak darah atau karena penyakit, seperti malaria dan demam berdarah. Keadaan seperti ini dapat mengganggu pembentukan eritrosit.

Masa Hidup Eritrosit

Masa hidup eritrosit hanya sekitar 120 hari atau 4 bulan, kemudian dirombak di dalam hati dan limpa. Sebagian hemoglobin diubah menjadi bilirubin dan biliverdin, yaitu pigmen biru yang memberi warna empedu. Zat besi hasil penguraian hemoglobin dikirim ke hati dan limpa, selanjutnya digunakan untuk membentuk eritrosit baru. Kira-kira setiap hari ada 200.000 eritrosit yang dibentuk dan dirombak. Jumlah ini kurang dari 1% dari jumlah eritrosit secara keseluruhan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar